Ayer Bangei

Tulisan ini ditulis oleh : Zusneli Zubir, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat dengan Judul : Dari ‘Ayer Bangei’ Hingga Kerajaan Air Bangis

Setiap daerah memiliki asal-usulnya sendiri. Mengkaji asal-usul penting dilakukan, agar masyarakat yang bersangkutan tahu bagaimana daerahnya dahulu kala mulai terbentuk. Setiap masyarakat punya ingatan kolektif tersendiri mengenai asal-usul daerahnya masing-masing. Sebagaimana nagari lain di Minangkabau, Air Bangis juga memiliki asal-usul yang patut dibicarakan sebagai pengetahuan bagi kita sekarang.

Air Bangis termasuk daerah permukiman pantai yang tua juga di Minangkabau. Bagi orang Minangkabau, secara adat-normatif, Air Bangis merupakan daerah dalam lingkup wilayah Rantau Pasaman. Bagaimana asal-usul nama Air Bangis dan bagaimana perkembangan kerajaan yang terdapat di Air Bangis di masa lalu?

Nama  Air  Bangis sendiri muncul  sekitar  abad ke-17, diberikan  oleh  seseorang  dari  rombongan Kerajaan Indrapura yang berlayar ke kawasan utara Pantai Barat Sumatera untuk mencari daerah baru. Rombongan  tersebut  mendarat  di suatu  tempat  dan  menemukan  sebatang  pohon  bangei(sebangsa pohon yang suka tumbuh di pinggir sungai) di  muara sungai.

Mereka membuat perkampungan di muarai sungai itu, yang seiring waktu semakin berkembang. Ketika kampung-kampung itu telah berkembang, mereka membentuk pemerintahan untuk mengatur tata kehidupan masyarakat. Daerah perkampungan itulah yang kemudian  dinamakan Ayer Bangei, yang arti harfiahnya dapat terjemahkan sebagai ‘muara sungai (ayer/air) yang di pinggirnya tumbuh batang pohon bangei’. Lalu perlahan-lahan pengucapannya, seiring waktu berjalan, berubah menjadi Air Bangih. Bagaimana perubahan pengucapan itu terjadi, sulit untuk menjelaskan tanpa dibantu oleh kajian ilmu lain semisal kajian linguistik-historis.

Keterangan   tentang  permukiman awal   di   kawasan   Air   Bangis   belum dapat dilacak secara pasti. Menurut Tambo Alam Minangkabau karangan Djamaran Dt. Toeah, daerah Pasaman pada umumnya, dan Air Bangis pada khususnya, dahulu pernah diduduki suku Batak (Mandahiling). Lalu kemudian, sumber yang sama menyebutkan bahwa pada penghabisan abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung, di bawah pemerintahan Sultan Alamsyah Siput Aladin, memerintahkan pasukannya untuk mengusir suku Batak yang menduduki daerah-daerah itu. Ketika laskar Minangkabau maju ke daerah-daerah tersebut, orang-orang Batak (Mandahiling) kemudian menyingkir.

Tidak didapat keterangan lanjutan ke mana mereka menyingkir, hanya dikatakan oleh sumber itu, bahwa mereka “sering-sering juga mengacau dan mengganggu keamanan”. Mereka tidak jarang membuat kekacauan ke Rao bahkan malahan sampai ke Lubuk Sikaping, demikian kata Dt. Toeah.Pagaruyung, setelah itu, lalu mengirim salah seorang keluarga raja dan di sana diangkat menjadi Yang Dipertuan Munang. Dengan diangkatnya wakil Pagaruyung di sana, mungkin saja telah menyelesaikan sengketa antara kedua belah pihak. Disebutkan, sebagai bukti bahwa terdapat orang Batak (Mandahiling) di situ, sampai 1920 (ketika tambo itu ditulis) terdapat dua bahasa yang secara umum digunakan oleh penduduknya, bahasa Mandahiling dan bahasa Minangkabau. Di samping bahasa, adat masyarakatnya juga bercampur baur satu sama lain.

Pada  abad ke-17 itu, kawasan  Air  Bangis  didiami  oleh  dua  suku  bangsa utama  yang menetap  yaitu Minangkabau dan Mandailing. Masyarakat Minangkabau awal di Air Bangis, menurut narasi setempat, turun dari wilayah pesisir Minangkabau, Tiku dan Indrapura.Air Bangis didirikan terutama oleh imigran yang berasal dari Indrapura yang dianggap memilki landasan kerajaan. Dalam waktu yang tidak pernah diketahui secara pasti, berkemungkinan sejak tahun 1600an, para perantau awal (peneruka) tersebut datang bergelombang ke wilayah Air Bangis dan membuka pemukiman di situ.

Namun sebelum Air Bangis terbentuk sebagai sebuah nagari, sebelum perantau Minangkabau datang lebih banyak ke sana membangun kampung, sudah ada permukiman kecil di wilayah itu. Beberapa catatan di masa kini menyebutnya sebagai kerajaan. Sebuah sumber misalnya mengatakan: “…sebelum ada daerah/kerajaan Air Bangis daerah/kerajaan yang sudah ada adalah daerah/kerajaan Patibubua dan daerah/kerajaan Ujung Biang.” Dua kerajaan yang disebutkan di awal itu secara berturut-turut dibentuk oleh keturunan Mandailing di tempat pertama menetap (yaitu di wilayah Patibubua) dan keturunan Tiku di wilayah pertama mereka menetap (yaitu di wilayah Ujung Biang). Lalu, setelah itu, barulah keturunan-keturuan kerajaan Indrapura datang setelahnya ke Air Bangis.

Kemelut politik dan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Indrapura dekade abad ke-17 (1600-1700), merupakan salah satu penyebab perpindahan beberapa kelompok keluarga raja Indrapura dalam mencari daerah-daerah yang aman. Salah satu rombongan yang berpindah tersebut dipimpin oleh Urang Kayo Lanang Bisai. Rombongan- ‘perantau’ ini kemudian sampai ke sebuah teluk yang sekarang kita kenal sebagai Teluk Air Bangis, lalu meneruskan perjalanan dengan memudiki sungai yang memungkinkan mereka menemukan daratan yang subur, untuk kemudian menjadikannya daerah permukiman.

Rombongan ini, dalam perjalanannya untuk terus memudiki sungai Air Bangis, kemudian bertemu dengan salah satu rombongan penduduk yang bermaksud sama, yang dipimpin oleh Naruhum yang berasal dari daerah Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Naruhum, di daerah asalnya, berkedudukan sebagai “Natoras”, seorang cerdik pandai penasehat raja. Setelah beberapa waktu rombongan tersebut bermukim didaerah yang dinamakan dengan Koto Labu. Seiring dengan perjalanan waktu, kampung Koto Labu semakin berkembang di bawah kepemimpinan Urang Kayo Lanang Bisai yang dibantu oleh dua orang penghulu yaitu Dt. Bandaharo dan Dt. Magek Tigarang.

Dalam masa yang tidak berselang lama, maka keturunan dari kerajaan Indrapura itu mengajak permukiman yang telah ada sebelumnya, yaitu Kampuang Patibubua dan Ujung Biang supaya bergambung membentuk unifaksi, menjadi satu kesatuan dengan nama Air Bangis. Nyaris semua masyarakat Patibubua pindah/hijrah ke daerah Air Bangis, tetapi sebagian masyarakat Ujung Biang ada yang tidak mau pindah. Mereka yang tidak bersedia bergabung dengan unifkasi baru bernama Air Bangis memilih mendirikan perkampungan lain dengan nama Selawai dan Kampung Sabolah/Selawai Tengah.

Kedatangan gelombang migrasi yang semakin banyak ini membuat penghuni perkampungan awal tersebut berkembang dan menyebar dengan cepat. Arah perkembangannya berlangsung dengan pesat ke arah pantai, sehingga daerah itu menjadi lebih ramai dan terbentuk sebagai pusat permikiman di sana, mengalahkan pertumbuhan permukiman di Bunga Tanjung sendiri. Karena permukiman telah tumbuh dan berkembang, sehingga sudah patut sudah patut dibentuk nagari dan berkembang menjadi kerajaan, yang kemudian dinamakan Kerajaan Air Bangis.

Begitulah asal-asul terbentuknya Air Bangis yang kita kenal sekarang.

*Tulisan ini sudah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada tanggal 5 Maret 2017

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*