Siasat Tuanku Rao

Gambar diambil dari Google

Tuanku Rao dikenal sebagai Tokoh Paderi dan Panglima terkemuka dari Minangkabau yang tangguh dan gigih melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, khususnya di wilayah Pasaman dan sekitarnya. Pada tahun 1831, Pemerintah Kolonial Belanda menugaskan Letnan Kolonel Elout untuk meneruskan penyerbuan Belanda kepada Kaum Paderi hingga sampai ke Bonjol dan Rao.

Sebelumnya pada Tahun 1831 Kaum Paderi lebih dahulu melakukan penyerbuan ke Benteng Belanda di wilayah Air Bangis, namun penyerbuan itu ternyata gagal dikarenakan datangnya bantuan dari Batavia dan atas “jasa” Nahkoda Langkap kepada Belanda pada saat itu menyerang perahu-perahu aceh yang bergabung bersama kaum Paderi.

Setelah gagal penyerbuan Kaum Paderi di Air Bangis pada tahun 1831 itu, Letnan Kolonel Elout mulai mengatur serangan lagi kearah Padang Darat menuju Matur dan Bonjol. Matur dan Bonjol dengan gigih dipertahankan oleh Kaum Paderi dengan menghabiskan waktu dan tenaga hingga akhirnya Matur jatuh setelah pertempuran hebat yaitu 10 September 1832 setelah berperang sengit selama sebelas tahun. Pada saat itu Komandan Perang Belanda yang menaklukkan Matur ialah Letnan Kolonel Vermeulen Krieger.

Dengan jatuhnya Matur yang sebagai pintu untuk masuk ke Bonjol, perlawanan daerah-daerah yang menuju ke Bonjol tidak ada artinya lagi. Oleh karena itu Nagari-nagari Cubadak Lilin, Palembayan, Sungai Puar dan lainnya itu tidak ada pilihan lain lagi selain menyambut saja dengan damai sehingga Kolonel Elout dan tentaranya masuk tanpa ada perlawanan ke daerah Bonjol.

Setelah masuk ke daerah Bonjol, Pihak Belanda berjumpa dengan Tuanku Imam dan menganjurkan agar mundur dari gelanggang politik dan digantikan oleh Putranya yaitu Tuanku Mudo diangkat jadi Regen Alahan Panjang. Setelah itu Belanda melanjutkan perjalanannya menuju dan menaklukkan Sudantar dan masuk ke Rao.

Pada Oktober 1832, Letnan H.J.Y Engelbert van Ververvoorden bertemu dengan Tuanku Rao dan membujuknya supaya menyerah saja, dan kalau menyerah akan dijamin keselamatannya. Dari sinilah mulai siasat Tuanku Rao dengan dalih bahwa beliau akan mundur dari Politik dan hendak pergi naik haji ke Mekah.

Sesudah pertemuan itu Tuanku Rao menarik diri dengan sembunyi dari Rao dan meneruskan perjuangan selanjutnya. Sedangkan kekuasaan di Rao diserahkan Belanda kepada mertuanya Yang Dipertuan Rao. Tuanku Rao melakukan siasat menyusun strategi untuk perjuangan berikutnya.

Pada saat itu pula Tuanku Tambusai yang membawa semangat baru yang pulang dari Mekah, Tuanku Haji Mohammad Saleh yang terkenal denga sebutan “beliau di dalu-dalu”. Tuanku Rao menuyusun kembali rencana untuk menyerang kembali pertahanan Belanda yang berada di Air Bangis.

Sejak Oktober 1832 itu, Tuanku Rao telah menghilang dari Rao. Dengan diam-diam beliau menuju ke Air Bangis dan menyusun kembali perlawanan rakyat di daerah Air Bangis. Namun gerak gerik Tuanku Rao yang sejak itu menghilang dari Rao menimbulkan kecurigaan dari Belanda tidak lepas dari intipan dan mata-mata Belanda juga telah berkeliaran dimana-mana, sebagai mata-mata belanda diambil dari anak Nagari sendiri.

Tuanku Rao yang berada di Air Bangis untuk mengarahkan bala bantuan prajurit Paderi dan alat-alat dalam rangka usaha memukul Belanda secara habis-habisan terutama terhadap Bentengnya. Lagi-lagi, atas suatu pengkhianatan, sampailah kabar kepada pihak Belanda bahwa Tuanku Rao sedang berada di Air Bangis. Dan belanda mengambil tindakan cepat dengan mengepung Tuanku Rao di Air Bangis dengan mendatangkan pasukan dan Kapal Perang Belanda dari Teluk Bayur.

Pengejaran dan pengepungan yang tidak disangka-sangka oleh Tuanku Rao melakukan perlawanan sengit dan karena sudah terdesak, akhirnya Belanda mematahkan perlawanan Tuanku Rao dan menawannya. Tuanku Rao dapat dipatahkan perlawanannya setelah menderita luka berat, akibat hujan peluru yang ditujukan Belanda kepada dirinya. Perlawanan terakhir Tuanku Rao pada saat itu dengan masih memegang sebilah keris dan akhirnya rubuh, dalam melakukan perjuangan melawan Penjajah Kolonial Belanda dan sekutunya pada 29 Januari 1833.

Karena kebencian Belanda kepada Tuanku Rao yang tidak pernah tunduk dan cerdik melakukan siasat, akhirnya Tuanku Rao disingkirkan dengan cepat dan dibawa dengan Kapal “Circe” yang didatangkan oleh Belanda untuk pengepungan di wilayah sekitar Pantai Air Bangis. Sekitar satu jam setelah berada di Kapal, entah dalam keadaan tewas atau tidak, yang jelas Tuanku Rao dilempar begitu saja ke laut oleh Belanda untuk melampiaskan bencinya kepada tokoh patriot itu.

Hingga sekarang ditempat lokasi pembuangannya itu terdapat sebuah Gosong yang dinamakan oleh masyarakat Air Bangis dengan Nama Gosong Tuanku Rao. Tetapi apakah pada saat itu Tuanku Rao masih melakukan siasat ?, Entahlah, Wallahualam. Yang dapat kita pelajari adalah selalu ada pengkhianatan dalam setiap perjuangan dan kita menghormati Tuanku Rao sebagai Mujahid dan Syahid.

Sumber Referensi :

Hamka. Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, Jakarta, Republika, 2017

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*