“Tuo Pasia” dan Adat Kelautan di Air Bangis

adat kelautan air bangis

Adat kelautan di Air Bangis – Sebelum Negara membuat peraturan perundang-undangan tentang kelautan dan perikanan sampai detail tetek bengek aturan perizinan, pemakaian dan jenis alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan, Nelayan Air Bangis sebenarnya sudah mempunyai dan menerapkan berbagai aturan untuk mengelola sumber daya alam mereka sendiri. Mulai dari wilayah penangkapan, waktu melaut, alat tangkap, hingga aturan cara pembelian hasil laut yang telah disepakati bersama.

Masyarakat pesisir Air Bangis mempunyai cara sendiri untuk mengelola sumber daya alam kelautan mereka. Dahulu, diwilayah pantai terdapat seorang tua yang menjadi pimpinan dari nelayan Air Bangis yang mengatur wilayah pantai, mereka menyebutnya dengan “Tuo Pasia.” Tuo pasia adalah seorang yang dituakan yang lebih berpengalaman, lebih mengerti tentang wilayah pantai dan laut dan tentunya juga lebih paham membaca keadaan alam.

Rang Tuo Pasia berperan dalam menentukan waktu untuk turun melaut. Arahan dan nasehatnya didengar oleh para nelayan. Selain sebagai pimpinan, Rang Tuo pasia berkewajiban mengawasi setiap aturan yang dibuat bersama oleh Nelayan. Masyarakat membuat aturan bersama, disepakati bersama, dijalankan bersama dan diawasi bersama pula. Oleh sebab itu masyarakat pada waktu itu tahu dan mengerti tentang aturan dan cara menerapkan aturan tersebut karena dibuat bersama dan untuk kepentingan bersama. Hal ini sangat terbalik dengan kondisi saat ini, masyarakat sekarang tidak tahu menahu tentang peraturan yang dibuat untuk mengatur mereka karena hanya dibuat oleh segelintir orang yang duduk dikursi empuk dalam gedung mewah dan tidak selalu untuk kepentingan bersama.

Beberapa aturan yag dibuat bersama oleh masyarakat nelayan Air Bangis dahulunya adalah aturan tentang alat tangkap, musim dan waktu melaut, wilayah tangkap hingga ke penjualan dan distribusi hasil tangkap. Masing-masing nelayan memakai alat tangkap yang berbeda dan mempunyai wilayah tangkap yang berbeda pula menurut alat tangkap yang mereka gunakan.

Alat tangkap pukat tepi misalnya, wilayah nelayan yang menggunakan alat tangkap pukat tepi dari wilayah pantai hingga ketengah sampai terbatas kemampuan pukat ini digunakan. Pukat tepi ditebar kelaut dan ditarik bersama-sama menuju tepi pantai.  Dalam musim tangkap, waktu untuk menebar pukat tepi ditentukan oleh Tuo Pasia dan didahului dengan upacara kecil adat kelautan. Tidak hanya itu ketentuan panjang pukat yang digunakan  nelayan haruslah sama, jika melebihi panjang yang ditetapkan, maka harus dipotong.

Kearah tengah laut dari titik kemampuan alat tangkap pukat tepi adalah wilayah untuk nelayan yang menggunakan alat tangkap lainnya seperti jala, pancing sampai yang menggunakan lampu sebagai alat penarik perhatian ikan. Masing-masing dari mereka ini sudah ditentukan wilayah tangkapnya masing-masing sesuai dengan kemampuan alat tangkapnya. Saling menghormati wilayah tangkap masing-masing inilah yang membuat tidak adanya konflik diantara para nelayan dalam menentukan wilayah tangkap.

Selain itu juga diatur wilayah untuk para pedagang pengumpul hasil tangkap nelayan. Untuk yang menggunakan kendaraan bermesin wilayahnya bagian ketengah laut disekitaran pulau-pulau diperaian Air Bangis, sedangkan diwilayah agak ketepi laut adalah wilayahnya pengumpul ikan yang menggunakan sampan yang tidak bermesin. Dan juga terdapat wilayah pengumpulan ikan ditepi pantai atau di darat untuk masyarakat Air Bangis yang melakukan pembelian ikan ditepi pantai. Seteah itu barulah pedagang dari luar Air Bangis bisa melakukan pembelian hasil laut tersebut. Ada aturan yang berlaku bahwa pedagang yang berasal dari luar nagari Air Bangis tidak boleh melakukan pembelian ikan secara langsung ke tengah laut. Hal ini adalah guna untuk memenuhi terlebih dahulu kebutuhan yang ada di Nagari Air Bangis.

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula teknologi alat tangkap yang digunakan oleh Nelayan untuk melaut. Semakin terbenam pulalah aturan / adat kelautan yang dibuat bersama oleh masyarakat dalam mengelola sumberdaya laut mereka, dihimpit oleh aturan pemerintah yang dibuat oleh segelintir orang dan tidak pernah dimengerti oleh masyarakat.

Peran Tuo Pasia perlahan hilang oleh gelombang kemajuan zaman yang semakin materialistik, namun adat-adat kelautan yang dulu diterapkan bersama, hingga sekarang sedikit banyaknya masih dijaga dan  diterapkan oleh generasi penerusnya.

Saat ini masyarakat nelayan Air Bangis tidak bisa lagi dikatakan sebagai masyarakat Nelayan Tradisional, karena mereka sekarang sudah menggunakan alat-alat berteknologi canggih untuk mendukung pekerjaan mereka dalam berburu hasil laut.

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*