Jejak Sejarah Pantai Barat Sumatera

Sejarah Pantai Barat Sumatera juga mengenal masa klasik, suatu masa dan suatu periode yang menampilkan penduduk kawasan itu menjadi aktor utama sejarahnya. Kurun waktu, saat mana kawasan itu menjadi bagian atau setting utama dari sejumlah peristiwa sejarah yang penting. Peran sejarah dan jejak-jejak dinamika sejarah saat itu menghadirkan rasa bangga bagi anak negeri.

Dua dari sekian banyak pengalaman sejarah masa klasik tersebut adalah pertama, peranan kawasan (perairan) Pantai Barat Sumatera dalam proses perantauan nenek moyang (para leluhur) serta kedua, adanya aspek pelayaran dan perdagangan penduduk daerah ini, yang memungkinkan mereka berinteraksi antar-sesama mereka penduduk Pantai Barat Sumatera atau berinteraksi dengan penduduk (saudagar) dari negeri asing.

Pantai Barat Sumatera berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Perairan luas ini menghubungkan Pantai Barat Sumatera dengan bagian timur Benua Afrika di barat, Anak Benua India dan Jazirah Arab di barat laut atau utara, serta Pulau Jawa di tenggara atau selatannya.

Samudera Hindia bukan hanya menghubungkan Pantai Barat Sumatera dengan kawasan-kawasan tersebut secara alamiah, tetapi juga menjadi prasarana transportasi laut bagi pergerakan manusia dan barang antar kawasan.

Pergerakan tersebut dilakukan dengan perahu dan kapal. Pergerakan itu sekaligus menciptakan hubungan antar wilayah, dan hubungan itu telah terjalin sejak waktu yang lama, bahkan bisa dikatakan sejak masa prasejarah.

Peranan Samudera Hindia pada masa prasejarah dikaitkan oleh sejumlah ilmuwan dengan proses migrasi nenek moyang penduduk Nusantara khususnya dan penduduk yang mendiami kawasan mulai dari Madagaskar di barat hingga ke kepulauan Mikronesia dan Polynesia di kawasan Samudera Pasifik.

Sebagaimana diketahui, ada sejumlah teori mengenai asal-usul penduduk kawasan ini, dua di antaranya mengatakan bahwa mereka berasal dari pedalaman Benua Asia (Hindia Belakang) dan dari Taiwan. Teori pertama mengaitkannya dengan adanya kemiripan peninggalan arkeologis di kawasan pedalaman Asia tersebut dengan yang ada di Kepulauan Nusantara, sedangkan teori kedua mengaitkannya dengan ada kesamaan bahasa dari Taiwan kuno dengan penduduk di Nusantara hinga ke Madagaskar serta ke kawasan Pasifik Selatan.

Dari manapun asal-usul mereka, yang jelas, bila mereka datang dari negeri asal tersebut ke Nusantara pasti mereka mengarungi lautan dan pasti mereka menggunakan perahu atau kapal. Pemakaian alat pengangkutan di air ini bahkan telah dipergunakan dalam proses perpindahan mereka dari pedalaman Asia (Hindia Belakang).

Menurut Heine Gelderen, seperti dikutip Noteboom, di samping menggunakan jalan darat, perpindahan para leluhur itu dilakukan dengan menggunakan perahu di sejumlah sungai besar yang mengalir dari negeri asal tersebut ke kawasan pantai.

Dari kawasan Pantai Asia Tenggara atau dari Taiwan para leluhur itu mengarungi lautan luas menuju daerah pemukiman yang baru. Proses perpindahan itu ternyata tidak hanya sampai di kawasan sekitar Philipina dan kepulauan Indonesia saja, tetapi terus ke timur hingga ke kawasan Polynesia dan Mikronesia di Pasifik Selatan dan terus ke barat hingga Pulau Madagaskar dan bagian timur Afrika. 

Perpindahan para leluhur ini tidak berlangsung dalam satu kali proses perpindahan saja, tetapi dilakukan dengan metode “jalan/berlayar menetap – berjalan/berlayar – menetap – berjalan/berlayar menetap”, dan berlangsung dalam waku yang lama.

Melalui proses perpindahan seperti inilah ditemukan adanya jejak-jejak kesamaan peninggalan arkeologis atau bahasa dari para leluhur tersebut di berbagai kawasan yang dilaluinya, baik di pedalaman Asia Tenggara atau di Kepulauan Nusantara hingga Pasifik Selatan dan Madagaskar.

Bukti-bukti tentang adanya migran dari Nusantara khususnya dan pedalaman Asia serta Taiwan umumnya di Madagaskar dan kawasan timur Afrika telah banyak dikemukakan oleh ilmuwan. Bukti-bukti tersebut meliputi kesamaan bahasa, adat-istiadat, alat-alat kesenian, model dan gaya rumah, serta model perahu.

Beberapa ilmuwan yang memberikan perhatian pada adanya migrasi tersebut serta adanya kesamaan berbagai unsur/aspek kebudayaan Nusantara dengan unsur/aspek kebudayaan di Madagaskar serta Pantai Timur Afrika adalah Aristide Marre dengan karya yang berjudul “L’immigration Malaise dans Madagascar” C. van Vollenhoven dengan karyanya yang berjudul “Het Adatrecht van Madagaskar” M.H. Deschamps dengan karyanya yang berjudul “Indonesiens et Malgaches” serta C. Noteboom dengan karyanya yang berjudul “Sumatera dan Pelajaran di Samudera Hindia”

Di samping itu, nama Robert Dick-Reid dan Albert Shaufer juga tidak boleh dilupakan, karena mereka berdua membuktikan adanya “hubungan yang nyata” antara Nusantara dengan Pantai Timur Afrika dengan pembuktian ‘ala mereka sendiri’. Dick-Reid membuktikannya dengan sejumlah kajian tentang bukti-bukti pelayaran dan peninggalan orang Nusantara di Benua Hitam tersebut, yang hasil penelusurannya itu dia tampilkan dalam bukunya yang berjudul Penjelajah Bahari: Pengaruh Per-adaban Nusantara di Afrika), sedangkan Albert Shaefer membuktikannya dengan melakukan pelayaran “bagaikan pelayaran nenek moyang” ribuan tahun yang lalu dari Tawi-Tawi di Philipina melalui perairan sebelah barat Sumatera menuju Pantai Timur Afrika. Hasil pembuktiannya tersebut dia ungkapkan dalam buku yang berjudul Sarima-nok: Eine Seereise Wie vor 2000 Jahren (1991).

Dalam proses perpindahan ke arah barat menuju Pulau Madagaskar dan bagian timur Benua Afrika inilah Samudera Hindia sebelah barat Sumatera ikut memegang peran. Kawasan perairan itulah yang digunakan oleh para migran tersebut untuk mencapai Madagaskar dan kawasan timur Afrika.

Walaupun tidak langsung berlayar di perairan sebelah barat Pulau Sumatera, apa yang dilakukan Albert Shaefer adalah bukti yang paling nyata tentang pemanfaatan Samudera Hindia dalam proses migrasi penduduk Nusantara ke Madagaskar dan kawasan timur Benua Afrika.

Pembuktian Shaefer ini dilakukan pada waktu yang relatif sezaman dengan kita dewasa ini. Sedangkan hasil kajian Noteboom membuktikan secara langsung bahwa perairan sebelah barat Sumatera, bahkan penduduk Pantai Barat Sumatera telah menggunakan Samudera Hindia tersebut dalam pelayarannya ke Afrika.

Mengutip pendapat Gabriel Ferrand, Noteboom mengatakan bahwa penduduk Pantai Barat Sumatera telah mendatangi Madagaskar sejak berabad-abad yang lampau (sejak waktu yang lama), dan puncak perpindahan mereka itu tersebut berlangsung pada abad ke-2 dan abad ke-10

Samudera Hindia tidak hanya berperan dalam proses perpindahan nenek moyang atau dimanfaatkan orang Pantai Barat Sumatera pada masa prasejarah, tetapi juga untuk kegiatan niaga pada masa sejarah.  

Samudera Hindia dan kawasan laut yang menjadi bagiannya, seperti Laut Andaman, Teluk Benggala dan Laut Arab, dimanfaatkan oleh para pelaut dan saudagar Pantai Barat Sumatera untuk pergi ke India atau juga ke Arab. Sebaliknya, perairan ini juga dimanfaatkan oleh pelaut dan saudagar asing (terutama India dan Arab) untuk datang serta berniaga di kawasan Pantai Barat Sumatera

Samudera Hindia memang sebuah kawasan laut lepas, namun perairan ini sangat memungkinkan untuk dilayari, walaupun oleh perahu atau kapal dengan model dan teknologi yang sederhana.

Salah satu faktor penyebab utama-nya (dapatnya dilayari) samudera ini khususnya dan perairan di kawasan Nusantara pada umumnya karena adanya angin monsun (monsoon atau musim), yakni sejenis angin yang berhembus secara periodik antara tiga sampai dengan enam bulan dan antara satu periode dengan periode berikutnya bertiup dengan arah yang berlawanan di kawasan ini.

Di samping itu, di perairan ini juga ada arus laut yang juga bergerak dengan pola pergerakan yang relatif sama dengan angin monsoon. Bagi pelaut yang mampu membaca gejala alam ini, serta ditambah dengan kemampuan menggunakan bintang sebagai petunjuk, maka lautan luas itu bisa dengan mudah dilayari.

Berbeda dari hubungan antara Pantai Barat dengan kawasan timur Afrika, keberadaan arus laut dan angin musim berperan besar dalam jalinan niaga antara Pantai Barat dengan kawasan Jazirah Arab (Dunia Arab) dan India.

Di samping itu, jalinan niaga antar daerah tersebut juga didukung oleh tersedianya komoditas perdagangan yang dimiliki Pantai Barat Sumatera yang dibutuhkan oleh Dunia Arab dan India. Kondisi ini menyebabkan tersedia informasi mengenai jalinan hubungan antar daerah tersebut dalam jumlah yang cukup banyak.

Tidak itu saja, informasi atau deskripsi yang dibuat penulis (sejarah) mengenai hubungan niaga kedua daerah tersebut dapat dikatakan cukup berani dalam pengertian pengungkapan yang disajikan melebihi perkiraan banyak orang.

Hal ini, antara lain, terlihat dari pernyataan yang menyebut bahwa kontak dagang antara kedua daerah telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, dan jejak hubungan tersebut bisa ditarik ke belakang, pada masa jayanya kerajaan-kerajaan di Tanah Mesir kuno. Keradaan arus laut dan angin musim sangat membantu aktivitas niaga antara Dunia Arab dan India dengan Pantai Barat Sumatera.

Pendapat itu ditambah atau diperkuat lagi dengan tersedianya komoditas perdagangan yang dibutuhkan Negeri Arab (khususnya Mesir) dan India yang disediakan oleh Pantai Barat Sumatera. Komoditas niaga yang dimaksud adalah kapur barus dan kemenyan serta emas dan berbagai produk hutan lainnya

Untuk masa yang paling awal dalam sejarah perniagaan Pantai Barat dengan Dunia Arab dan India, maka kapur barus (kamfer dalam bahasa Belanda dan kafur dalam bahasa Arab) dan kemenyan (benzoe dalam bahasa Belanda atau banjawi dalam bahasa Arab) adalah komoditas primadonanya.

Kedua produk ini sangat dibutuhkan oleh Dunia Arab (Mesir) dan India sebagai bagian dari berbagai ritual keagamaan yang mereka miliki, termasuk juga penyelenggaraan kematian (untuk membalsem atau mengawetkan mayat raja-raja Mesir kuno), serta untuk keperluan pengobatan.

Kapur barus dan kemenyan adalah komoditas niaga yang juga dihasilkan di banyak tempat di Nusantara khususnya dan Asia Tenggara serta Asia Selatan pada umumnya. Tetapi kapur barus dan kemenyan Pantai Barat Sumatera memiliki kualitas yang jauh lebih bagus bila dibandingkan dengan kapur barus dan kemenyan yang diproduksi daerah lain. Aroma dan daya tahannya jauh berbeda dari yang dihasilkan daerah lain.

Di Pantai Barat Sumatera sendiri kedua produk ini juga dihasilkan di berbagai tempat, namun kamfer yang dihasilkan daerah di sekitar Barus lah yang terbaik.  Kamfer yang dihasilkan kawasan di sekitar kota itulah yang paling banyak dicari karena memiliki kualitas terbaik kendati menyebabkan harganya menjadi sangat mahal.

Produk ini menjadikan negeri penghasilnya begitu terkenal di kawasan Laut Tengah, Tanah Arab atau India serta China sehingga namanya telah tercatat dalam beberapa literatur lama kawasan itu serta disebut dengan Baros, Balus, Pansur, Fansur, Pansuri, Kalasaputra, Karpuradwipa, Baru-sai, dan Warusakaada.

Harga kamfer asal Barus bisa mencapai delapan kali lebih mahal bila dibandingkan dengan produk yang sama yang dihasilkan oleh daerah lain. Dan dengan merujuk keterangan Marco Polo, Rusli Amran mengatakan bahwa harga kamfer setara dengan harga emas dalam jumlah yang sama.

Selain kamfer, Barus juga menghasilkan kemenyan yang juga diproduksi di Singkel, Tapus, Sorkam dan Korlang sebagai pusat-pusat perdagangan kemenyan terpenting di Pantai Barat Sumatera saat itu.

Sama dengan kapur barus, kemenyan dihasilkan daerah pedalaman, yakni Tanah Batak. Penduduk pedalaman itulah yang mengumpulkan produk ini dan membawanya ke Singkel, Tapus, Barus, Sorkam dan Korlang.

Satu lagi komoditas perdagangan andalan Pantai Barat pada era klasik ini adalah emas. Berbeda dengan kapur barus dan kemenyan, pusat perdagangan emas umumnya berada di kawasan selatan, di Rantau Pesisir dan Bandar Sepuluh di daerah budaya Minangkabau.

Kota bandar yang menjadi pusat perniagaan ini adalah Tiku, Pariaman, Kototangah, dan Indrapura. Namun sama dengan kapur barus dan kemenyan, daerah penghasil utama emas berada di pedalaman. Sama juga dengan pengalaman kawasan utara, penduduk dan saudagar dari daerah pedalaman itu membawa hasil emas ini ke kawasan pesisir. Sebagaimana disebut sebelumnya, saudagar dari India dan Arab adalah pembeli utama berbagai komoditas Pantai Barat masa itu.

Perniagaan dengan mereka berlangsung dengan cukup intensif dan dalam waktu yang lama. Saudagar-saudagar dari kedua daerah itu tidak datang dan kemudian pulang kembali ke negeri asal mereka, tetapi ada juga yang menetap di kawasan ini. Untuk kasus ini, mengutip temuan Nilakanta Sastri, Drakard menyebut bahwa terdapat serikat dagang bangsa Tamil di Barus pada awal milenium kedua

Jejak-jejak hubungan antara Pantai Barat Sumatera dengan Dunia Arab antara lain dapat dilihat dari berbagai cerita rakyat tentang asal-usul penduduk dan pemukiman di Pantai Barat.

Sejumlah penulis telah menyebut bahwa hubungan Pantai Barat dengan Dunia Arab (termasuk Mesir) telah terjalin sejak masa sebelum tarikh Masehi. Mereka bahkan menegaskan bahwa hubungan itu, pada awalnya dijalin karena kepentingan perdagangan.

Dunia Arab umumnya dan Mesir khususnya membutuhkan produk Pantai Barat Sumatera, yakni kapur barus dan kemenyan untuk keperluan atau ritual keagamaan serta pengawetan jenazah bagi mereka. Di samping itu, adanya sejumlah pemukiman dengan nama yang ada pengaruh Arab (Pariaman) atau nama daerah di Pantai Barat yang telah diterima sebagai kata dalam bahasa Arab (Barus) adalah bukti lain dari adanya hubungan antara daerah ini dengan Dunia Arab di masa silam.

Khusus untuk Pariaman, Hamka menyebut bahwa berdasarkan “al-manak Tiongkok” pada tahun 674 telah ada sekelompok masyarakat Arab di Sumatera Barat (Hamka tidak memberikan rujukan “Almanak Tiongkok” yang mana yang memberikan informasi itu).

Lebih lanjut, Hamka bahkan menafsirkan bahwa orang Arab seharusnya telah hadir di kawasan itu jauh dari hari sebelumnya, tidak mungkin tiba-tiba saja pada tahun tersebut mereka telah ada dalam jumlah yang banyak. Berdasarkan tafsirannya itu, Hamka bahkan mengaitkan asal-usul keberadaan Pariaman, sebuah kota di Pantai Sumatera dengan adanya Orang Arab di sana. Hamka mengatakan kota itu adalah perkampungan Orang Arab, dan nama kota itu berasal dari Bahasa Arab, ‘Barri Aman’ (tanah daratan yang aman sentosa)

Kontak dagang antara Pantai Barat Sumatera dengan India dan Arab tetap berlanjut hingga datangnya bangsa Eropa di kawasan ini. Namun bila diperbandingkan, maka kontak dengan India jauh lebih dominan, bahkan pada abad-abad menjelang kedatangan bangsa Barat nyaris tidak ada lagi catatan sejarah mengenai kehadiran orang atau saudagar Arab di kawasan ini. Saat itu saudagar dan pelaut Arab lebih mengarahkan aktivitas mereka di kawasan Selat Malaka

Di samping kemenyan, kapur barus, dan emas, pada masa itu juga tercatat tanaman obat lignaloe, lilin, madu, kayu gaharu, dan lain sebagainya sebagai komoditas perdagangan dari Pantai Barat Sumatera. Sementara dari India banyak dibawa kain (dengan berbagai macam corak dan bentuknya).

Perkembangan lain yang terjadi di Pantai Barat Sumatera pada abad-abad menjelang kehadiran orang Barat adalah semakin banyak kota dagang di kawasan ini. Di samping kota-kota bandar yang disebut sebelumnya, pada kurun waktu itu juga ada Meulaboh, Tico, Pariaman, dan Andalas.  

Disamping menjalin hubungan dagang dengan Gujarat (India), kota bandar di Pantai Barat Sumatera, khususnya Pariaman juga aktif berniaga dengan Sunda. Bila perdagangan India (Gujarat) lebih didominasi oleh komoditas hasil hutan dan kain, maka perniagaan dengan Kerajaan Sunda lebih khusus pada perdagangan ternak, yakni kuda. Pires menyebut, Pariaman memiliki banyak kuda yang selalu mereka jual ke Kerajaan Sunda.

Daerah-daerah yang berada di bagian utara khatulistiwa akan menjalin kontak dan hubungan yang intensif antar-sesama mereka. Jarang sekali terjadi kontak atau hubungan antara mereka dengan daerah-daerah yang terdapat di bagian selatan garis khatulistiwa.

Kalaupun ada kontak atau hubungan dengan daerah di bagian selatan tersebut, maka itu dalam jarak yang tidak begitu jauh dari garis khatulistiwa, seperti hingga kota bandar Indrapura. Sebaliknya, daerah-daerah yang berada di bagian selatan garis khatulistiwa menjalin hubungan yang intensif antar sesama mereka di bagian selatan.

Jarang sekali pula mereka menjalin kontak dan hubungan dengan daerah-daerah di bagian utara. Sama juga dengan pengalaman daerah utara, kalau ada kontak atau hubungan dengan dae-rah di bagian utara, maka itu dalam jarak yang tidak begitu jauh dari garis khatulistiwa, hingga kota Airbangis.

Sumber :

Eko Yulianto, Gusti Asnan dkk. Mengawal Semangat Kewirausahaan; Peran Saudagar dalam Memajukan Roda Ekonomi Sumatera Barat, Jakarta, Bank Indonesia Institute. 2018 Sub Judul : “Pelayaran dan Dunia Niaga Pantai Barat Sumatera Sebelum Kedatangan Orang Eropa”

Referensi :

Asnan, Gusti. “Perspektif Geografis Jaringan Pelayaran/Perdagangan Sumatera (Indonesia Bagian Barat), Makalah pada “Konferensi Sejarah Nasional X”, di Jakarta, Tanggal  7-10  November 2016.

Drakard, Jane. 1988. Sejarah Raja-Raja Barus: Dua Naskah dari Barus. Jakarta, Bandung: Penerbit Angkasa dan Ecole Française D’extreme-Orient.

Eko Yulianto, Gusti Asnan dkk. Mengawal Semangat Kewirausahaan; Peran Saudagar dalam Memajukan Roda Ekonomi Sumatera Barat, Jakarta, Bank Indonesia Institute. 2018

Guillot, Claude dkk. 2008. Barus Seribu Tahun yang Lalu.  Jakarta: KPG.

Hamka. 1982. Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Ulama di Sumatera. Jakarta: Uminda.

Mansoer, M.D. dkk. 1970. Sedjarah Minangkabau. Djakarta: Bhratara.

Nooteboom, C. 1972. Sumatera dan Pelayaran di Samudera Hindia. Djakarta: Bhratara.

Pires, Tome. 1944. The Summa Oriental of Tome Pires. Nendel/Leichtenstein: Kraus Reprint Limited.

Rusli Amran. 1981. Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

Vollenhoven, C. van. 1920. Het Adatrecht van Madagaskar. Leiden, 1920.

Vuuren, L. van, “De Handel van Baroes, als Outste Haven op Sumatra’s Westkust, Verklaard; en voor de Toekomst Beschoued”, Tijdschrif van het Koninklijke Nedelandsch Aardrijkundig Genootschap, XXV, 1908, hal. 1389-1402.

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*