Air Bangis, Kota Pelabuhan dan Kawasan Bahari

Kehadiran VOC di Pelabuhan Air Bangis tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan Kesultanan Aceh, yakni mengincar lada dan emas dari daerah hinterland

Air Bangis, Kota Pelabuhan dan Kawasan Bahari – Pusat Air Bangis pada masa Kolonial Belanda berada di muara sungai. Menurut sebuah keterangan, tempat yang teramai saat itu adalah di muara sungai tersebut, “di mana orang- orang melancarkan lalulintas perdagangan hasil hutan ke Tiku, Pariaman dan Padang.”(Monografi Air Bangis, 1977:7).

Kota Pelabuhan

Dalam catatan Graves, kota pantai di sepanjang Pesisir Barat Sumatera, berkembang di sekitar muara-muara sungai dan teluk-teluk yang membentuk pusat-pusat niaga yang alami, ketika hasil-hasil produksi dari dataran tinggi pedalaman dapat diperjual-belikan dengan barang-barang impor dan hasil-hasil laut, terutama garam dan ikan asin.(Graves, 2007: 52).

Rivier te Airbangis, Sumatra’s Westkust Circa 1890 Sumber Foto : KITLV

Gambaran Graves itu, semua tampak cocok dengan gambaran Air Bangis sebagai kota pelabuhan pada kurun perdagangan pantai. Sebagaimana telah disinggung juga sebelumnya, bahwa Air Bangis adalah nagari yang plural dan heterogen sejak awal, nagari unifaksi dari berbagai permukiman yang geneologisnya berbeda-beda, dari Batak (Mandahiling) dan dari Minangkabau (dengan tempat asal yang juga beragam).

Kedatangan Bangsa Eropa

Sejak terbentuk, Air Bangis berkembang menjadi pusat perdagangan. Sebelum kedatangan orang-orang Eropa, pelabuhan Air Bangis sudah dikunjungi pelaut-pelaut dariArab, Cina, dan Gujarat.(Geillusveerd Volkstijaschvift, 1902: 483).

Baca Juga : Pelabuhan Air Bangis di Zaman Kolonial

Pada tahun 1665, saudagar VOC di bawah pimpinan Jacob Groenewegen mendatangi Pelabuhan Air Bangis dan mencoba mengusir Aceh dari kawasan ini. Namun usahanya masih gagal. VOC mulai mendirikan loji dan pemerintahan di Pelabuhan Air Bangis baru pada tahun 1687 dengan nama comptoir utara dengan ibukota Air Bangis.

Kehadiran VOC di Pelabuhan Air Bangis tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan Kesultanan Aceh pada wilayah ini, yakni mengincar lada dan emas dari daerah hinterland kawasan tersebut, dan VOC juga menerapkan sistem perdagangan yang sifatnya monopolistis. Lada dan emas merupakan dua komoditas perdagangan utama daerah ini yang betul-betul diawasi dengan ketat oleh VOC.(Junaidi, 2015: 32).

Untuk melakukan transaksi perdagangan dengan penduduk Pelabuhan Air Bangis, VOC melakukan transaksi yang cukup rumit. VOC mengangkut emas yang didapatkan dari daerah hinterland Pantai Barat Sumatera ke pantai Coromandel, karena kekurangan uang untuk membeli lada dan rempah-rempah.

Di Coromandel VOC mencetak uang emas sendiri dan membeli kain katun dari India Barat maupun India Selatan. Sejak tahun 1668 kain dijadikan sebagai alat tukar bagi setiap pembelian emas, lada, dan rempah-rempah di Pantai Barat Sumatera. Dari perdagangan ini VOC diperkirakan mendapat keuntungan sekitar 75%.(Junaidi, 2015: 33)

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian Zusneli Zubir dan Ajisman, Dinamika Sosial Masyarakat Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat Tahun 1985-2013. “Laporan Penelitian BPNB.” Padang: BPNB, 2016 dalam Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 2 No. 1, Juni 2016

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*