Ketika Air Bangis Dilanda Wabah

Pada tahun 1882, Pemerintah Belanda akhirnya mendatangkan dokter pribumi, dr. Radja Dorie Lubis, untuk menangani dan memberikan pengobatan kepada penduduk yang terkena penyakit malaria

Kemunduran Pelabuhan Air Bangis dalam aktifitas lalu lintas perdangan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya, perluasan wilayah ke utara (Tapanuli) telah menjadikan  Pelabuhan Sibolga sebagai pusat ekonomi dan politik yang baru di kawasan utara Pantai Barat Sumatera,  penerapan pajak yang terus meningkat membuat pedagang asing enggan berlayar di kawasan Pantai Barat Sumatera, termasuk di wilayah Air Bangis.

Saling terhubungnya akses jalan di daerah hinterland membuat Belanda sibuk dengan wilayah baru ini, dan berkembangnya kawasan Pantai Timur Sumatera sebagai pusat ekonomi dan politik baru bagi Pemerintah Hindia Belanda telah mematikan banyak pelabuhan kecil di kawasan Pantai Barat Sumatera termasuk Pelabuhan Air Bangis.

Baca Juga : Upaya Bangsa Eropa Menduduki Pantai Barat Sumatera

Kemunduran Pelabuhan Air Bangis juga disebabkan berjangkitnya penyakit malaria di Pelabuhan Air Bangis. Penyakit Malaria disebabkan oleh bakteri atau parasit plasmodium yang dibawa oleh nyamuk.  Penyakit malaria ini cepat sekali berkembang dan menjadi wabah yang menakutkan di Air Bangis.

Hal ini dikarenakan keadaan lingkungan alam Pelabuhan Air Bangis yang berawa-rawa dan banyaknya area resapan air yang tersumbat di perkampungan warga, sehingga menyebabkan genangan-genangan air. Selain itu daerah ini juga memiliki intensitas hujan yang tinggi.

Pemerintah Belanda di Air Bangis sudah melakukan upaya penanganan terhadap penyebaran penyakit malaria, yaitu dengan memperbaiki dan memperbanyak drainase. Adapun tujuannya adalah agar perkampungan warga dan area pelabuhan menjadi kering dan tidak ada genangan air tempat nyamuk berkembang biak. Namun usaha tersebut belum mendatangkan hasil karena korban malaria masih berjatuhan dan semakin hari semakin bertambah.

dr. Radja Doeri Loebis (Sumber Foto : Google)

Akibat dari wabah malaria di wilayah Air Bangis, menjadikan wilayah ini ditinggalkan pengusaha dan pedagang asing yang awalnya bermukim di wilayah ini. Penduduk setempat pun banyak yang meninggalkan Air Bangis menuju Natal dan Sibolga. Keadaan ini meyebabkan aktivitas pelayaran dan perdagangan di Pelabuhan Air Bangis lesu.

Pada tahun 1882, Pemerintah Belanda akhirnya mendatangkan dokter pribumi, dr. Radja Dorie Lubis, untuk menangani dan memberikan pengobatan kepada penduduk yang terkena penyakit malaria. Sewaktu di Air Bangis dr. Radja Dorie lubis tidak hanya menangani penyakit malaria, tetapi juga mengobati penyakit kolera yang diderita penduduk.

Sumber :

Junaidi, “Pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat Pada Abad XIX Hingga Awal Abad XX”, Skripsi Sarjana. (Medan: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, 2015)

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*